Oleh : [Kiki] Rakhmawati Z
rakhmawati.zaki@gmail.com
Showing posts with label Rumah Tarbiyah. Show all posts
Showing posts with label Rumah Tarbiyah. Show all posts

Friday, January 25, 2013

(Special) for Muslimah Only

Rumah Tarbiyah. Rumah Cahaya. Orang-orang di luar sana menyebutnya Rumah Para Calon Bidadari Syurga. Penamaan ini dimaksudkan sebagai do’a agar mereka yang tinggal didalamnya selalu bersemangat dalam menuntut ilmu dan menempuh jalan menuju syurga. Tertanggal 25 Januari 2013, Inspirasi pagi di Jumuah Mubarak ditemani Indahnya tilawah Misyari ibn Rasyid [06:45-07:36]

Metamorfosa
It is dedicated to all of you Hai Muslimah

Aku memang bukan muslimah yang syamil, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha untuk menjadi syamil dalam mengaplikasikan hukum-hukum Allah

Aku memang bukan hafidzah, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha menghafal ayah demi ayah, surah demi surah dan juz demi juz dari Alquran

Aku memang bukan muslimah yang mewarisi berjuta ilmu para alim ulama, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha mengasah diri untuk menjadi generasi penerus yang rabbani, menjadi pencetak manusia berakhlaq mulia

Aku memang bukan muslimah yang istiqamah dalam Qiyamul lail, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha melawan beratnya bangun di tengah malam buta dikala binatang nokturnal berpesta

Aku memang bukan muslimah yang istiqamah dalam Dhuha, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha menjaga shalat dikala sepenggalah matahari telah tampak oleh mata

Aku memang bukan muslimah yang kaya raya, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha untuk menyisihkan harta yang Allah titipkan, berbagi dengan mereka yang kekurangan

Aku memang bukan muslimah yang cantik secara fisik, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha mencantikkan diriku di mata Yang Maha Cantik

Aku memang bukan muslimah yang baik, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha untuk menjadi bagian dari Al Abrar, golongan orang-orang yang baik

Aku memang bukan muslimah yang ahsan dalam beramal, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha menjadikan hidupku sebagai sajadah, tempatku bersujud untuk menyembah Zat yang Maha Esa

Aku memang bukan muslimah yang bersih dari mashiyat, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha menghindari pintu-pintu yang akan mendekatkanku pada neraka

Jihaddun nafs dan istiqamah adalah seberat-beratnya ujian bagi manusia, dan dunia adalah hamparan sajadah untuk bersujud kepada Allah, semoga dikuatkan Hai Muslimah

Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Mari kita terus bermetamorfosa untuk menjadi Abdu yang syamil dan tunduk secara penuh kepada Allah. Don’t be your self. B’cause human being is surrounding by nafs (syaiton). Be our self is not always in a good way. But be the real slave ! Be  different ! Different with your special charity. Follow them who istiqamah in Dhuha. Follow them who istiqamah in Tahajjud. Follow them who istiqamah in Smile. Follow them who istiqamah in Shaum. Follow them who istiqamah in Shodaqoh. Follow them who istiqamah in memorizing Alquran. And you’ll be different ! Allah is the trully way to come...

Friday, January 4, 2013

Antara Dua Wanita


Sebuah kisah dua wanita yang sangat menginspirasi, semoga bisa membuka mata hati kita akan sebuah keputusan. Keputusan yang sudah menjadi ketetapan, takdir. Yang perlu kita pahami adalah, bahwa kita bisa lari dari dari takdir Allah yang satu menuju takdir Allah yang lain, dengan takdir Allah pula. Dan semoga kita diberi kekuatan untuk terus mengejar takdir baik yang telah Allah tetapkan.

***** 

Bahwa ada pilihan-pilihan dalam menyusun cita dan langkah di jalan cinta para pejuang, biarlah kali ini dua orang wanita yang mengajari kita. Wanita pertama bernama Habibah binti Sahl. Inilah Imam Al Bukhari meriwayatkannya. “Sesungguhnya”, kata Ibnu Abbas, ”Habibah binti Sahl istri Tsabit ibn Qais telah menghadap kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia berkata, “Ya Rasulullah, saya tidak mencela akhlaq dan agamanya, tetapi saya tidak menyukai kekufuran dalam Islam.” 

Rasulullah Shallaahu A’laihi wa Sallam bersabda, “Maukah engkau mengembalikan kebun-kebuannya?” 

Ia menjawab, “Ya..!”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Tsabit, “Ambil kembali kebun itu, dan Thalaq-lah isterimu satu kali!” 

Dalam redaksi yang lain, Habibah bercerita banyak tentang sebab keinginannya bercerai dari Tsabit. Habibah berkata kepada Rasullullah, “Tampaklah apa yang tidak aku ketahui pada malam pengantin kami. Aku pernah melihat beberapa orang laki-laki, namun suamiku adalah lelaki yang paling hitam kulitnya, pendek tubuhnya, dan paling jelek wajahnya. Tidak ada satu kebagusan pun yang aku temui pada dirinya. Aku tidak mengingkari kebagusan akhlak dan agamanya, Ya Rasullullah. Tetapi aku takut menjadi kufur jika tak bercerai darinya. Aku takut jika terus menerus bermaksiat padanya karena ketidaktaatan pada suami, dan aku tahu itu menyalahi perintah Allah Swt.”

Habibah begitu mengerti akan potensi dirinya. Ia tahu akan resiko yang kemungkinan besar terjadi sebagai konsekuensi dari bertemunya realita kondisi yang ia hadapi dengan watak, sifat, dan karakter dirinya. Maka ia bicara tentang sebuah hak yang memang semestinya ia peroleh.

Ini tidak tercela. Bagaimanapun ada harapan-harapan tersendiri bagi seorang wanita untukmendapatkan suami yang begini dan suami yang begitu. Siapapun tidak berhak mengatakan habibah berselera rendah karena ia menolak Tsabit ibn Qais semata karena alasan fisik. Dan sebenarnya alasannya lebih pada dirinya sendiri yang khawatir kufur pada Allah atas kondisi suaminya. Dalam ungkapan Habibah, “Aku tidak mengingkari kebagusan akhlak dan agamanya, Ya Rasullullah.Tetapi aku takut menjadi kufur jika tak bercerai darinya. “Ada hal lebih besar yang ia takutkan, yakni kufur pada nikmat Allah. Dan durhaka pada suaminya.

Habibah binti Sahl memilih untuk bertaqwa pada Allah dengan meminta cerai dari seorang suami yang sulit diterima oleh perasaannya. Dan itu pun bukan tanpa resiko. Bersuamikan Tsabit ibn Qais dalam bayangannya menuntut kesabaran yang tak tertanggungkan. Tetapi ia juga sadar, hidup tanpa suami membutuhkan kesabaran dalam bentuknya yang lain. Selalu ada ruang, dan ruang itu berisi pilihan-pilihan.

Tetapi, bicara tentang kemuliaan, tentu lebih dari sekedar bicara tentang hak. Inilah kisah tentang wanita kedua. Ada satu kasus menarik dari seorang shahabiyah Rasulullah yang dinikahkan oleh ayahnya tanpa persetujuan dari dirinya. Menarik. Karena ia mengungkap satu pelajaran besar tentang hak wanita untuk menentukan pilihan. Ia memperjuangkan hak saudari-saudarinya itu agar mendapat ketegasan pengakuan dari Allah dan RosulNya. Dan jauh lebih menarik, karena ia mengungkap kemuliaan sebuah kata ridha kepada orang tua,dan keagungan kata sahabat atas ujian . Dengarlah,dalam riwayat Imam An Nasa’i, ‘Aisyah bercerita dalam perasaan yang senada. Perasaan seorang wanita.

“Ada seorang gadis remaja dinikahkan dengan seorang laki-laki. Ia kemudian berkata padaku, “sesungguhnya ayah telah menikahkanku dengan putera saudaranya agar martabatnya dapat terangkat melalui diriku. Tetapi aku tidak menyukainya..!”

“Aisyah lalu berkata, “Duduklah.!” Hingga kemudian, datanglah Rasulullah Saw. Maka aku pun memberitahukannya kepada beliau. Rasulullah lalu mengutus seseorang untuk memanggil ayahnya agar hadir kerumah beliau.

Ketika sang ayah hadir, Rasulullah Saw menyerahkan kembali urusan hal pernikahannya kepada sang gadis . Tetapi gadis itu berkata. “Ya Rasulullah, sebenarnya aku telah ridha akan apa yang dilakukan ayah kepadaku. Hanya saja, aku berkeinginan untuk memberitahukan  kepada para wanita, bahwa mereka memiliki hak dalam masalah ini.”  

Ada hak dalam menolak pernikahan yang digagas orangtua. Tapi ada kemuliaan dalam mentaati orangtua dan berbakti pada mereka. Wanita agung ini memilih yang kedua. Bukannya tanpa resiko. Karena dalam pernikahan ini ianya harus membangun cinta, mengatur perasaannya dari titik tidak suka. Begitulah. Selalu ada ruang diantara rangsangan dan tanggapan. Dan ruang itu berisi pilihan-pilihan. Maka itulah gunanya misteri takdir. Agar kita memilih diantara bermacam tawaran.

*****

Jumu'ah mubarak, 4 Januari 2013
Rumah Tarbiyah

Monday, July 30, 2012

Moeslimah Only, Journey to The Blest Way

I would give up everything 
Before Id separate myself from You (died) 
After so much suffering 
Ive finally found unvarnished truth
I was all by myself for the longest time 
So cold inside 
And the hurt from the heart
It would not subside 
I felt like dying 
Until You saved my life 

Thank God I found You 
Im lost without You 
My every wish and every dream 
Somehow became reality 
When You brought the sunlight 
Completed my whole life 
Im overwhelmed with gratitude 
Thank God I Found You by Mariah Carey

I like part of lyrics from this song. When I heard this song, its lyric makes me remember the struggle of myself to find Allah along my life. This song has accompanied me since I found my blest way. While I was looking for the blest way, I was trying hard to learn many things... I tried hard to find the truth, space out my time to learn, and face my inner problems, against myself and obedient my heart ’cause there are oftentimes resistence both of them. Struggle to leave many things and find out what human being. And this struggle will never stop as long as this world-wide keeps standing. 

I remember. One day on November around Mosque I met someone. Her name is Aqila. We were talking for along furthermore. She is open minded and a kindly person even we just knew each other. I felt like I ever seen her before in some place, but I didn’t figure out where it was. I felt that she is my real sister. I named this ukhuwah. Even we didn’t know each other but we felt already closed for along. Someday, she came to my dorm and stayed for a night. We chatted along the night till we discussed about two ayah in Al Qur’an, [Al Ahzab:59] and [An Nur:31]. It is about muslimah attributes. Actually I often hear these ayah and just feel so so. But it was going different at that time. Directly, water grains turned down on my cheek. And finally, I realized my sins for along. I know this is guidance from God... I like the way Allah impressed me. 

But life always hard, wherever we were. Sometimes when we decided something we have to ask our heart, does he ask us to choose or not? And for me “my life is what my heart calls to do.” Anything your heart said is the truth and it comes from God, but anything logic said is nafs, and anything worst said is syetan. These are the principal of muslimah to be hold. If you do, you’ll find your blest way sista... 

Hope to become the truly a perfect one who successfully methamorphosed into the real muslimah. Forswear and regret is renewing our aim to do something to get reward from God. Bismillah.
_______________
Rumah Tarbiyah, Yogyakarta
Monday, July 30 2012 [14:40]

Tuesday, July 10, 2012

Berjuta “HAL” yang Tak Kau Sadari


“Mb Kiki shalat?” suara lembut membangunkanku dari lelap. Kupandang jam digital di handhphoneku, pukul 03.20. Kurenggangkan tangan dan badan. Mencoba menyadarkan diri dari kelelapan, “Ngga dek...” Tertatih aku menuruni tangga, hampir saja terhuyung menabrak pintu. Ternyata kesadaranku belum pulih sepenuhnya. Akupun beranjak membersihkan diri dan membangunan mereka yang masih terlelap dalam mimpi.

Kusiapkan keperluan yang akan kubawa untuk aktifitas hari ini. Sembari menunggu yang lain shalat, kutata ruang kelas kemudian sekilas membaca catatan kecilku. Catatan kecil yang memuat rencana aktifitas dan beberapa hal yang harus kuselesaikan hari ini. Sebuah rencana mini yang semoga saja mengantarkanku pada pencapaian mimpi. Bismillah. 

Jam menunjuk pukul 05.15. Anak-anak sudah menempatkan diri di tempat duduknya masing-masing. Kicauan mereka menghangatkan suasana subuh yang dingin. Tetapi sesaat kemudian berubah menjadi tenang.  Abi datang.

Materi pagi ini, Qawa’id Fiqh. Abi mengajak kami berdiskusi untuk merefresh materi yang telah beliau sampaikan. Beragam pertanyaanpun terlontar. Hingga sampailah pada pembahasan HISAB. 


Sederet kalimat membuatku merenung sejenak, “Bahkan peniti yang kalian milikipun akan dihisab, untuk apa kalian gunakan?” sederet kalimat sederhana namun penuh makna.

Kutengokkan kepalaku kekiri dan kekanan, kulihat sebagian anak-anak bertumbangan “Bangun! Bangun! Ta’awudz! Ta’awudz!” suara Umi mengagetkan. Kemudian beliau berjalan ke depan dan dengan lantang mengatakan, “Majlis taklim itu di penuhi oleh malaikat, mereka berdoa dan bershalawat untuk kita sepanjang majlis taklim berlangsung, mereka telah mendoakan kita, maka sudah selayaknya kita membalasnya denga bersugguh-sungguh belajar.” Senyum hangat tersungging dari bibir Umi, “untuk masalah tugas, ujian, kuliah, kita mudah sekali meminta izin tanpa mempertimbangkan konsekuensi ketertinggalan. Lalu bagaimana dengan Fiqh. Akhlaq. Aqidah... dan Alqur’an?? Mana porsi untuk belajar mencintai Allah lebih dalam? Dunia itu hanya tempat bersinggah anak-anakku” wajah Umi memerah, dan tiba-tiba butiran bening mengalir dari mata beliau. Serentak kami terdiam. Tetesan-tetesan air mata tiba-tiba berjatuhan dan mengharubirukan suasana pagi itu. Betapa nistanya kami.

“Taukah kalian? Satu peniti yang kita milikipun akan di hisab. Coba beritahu Umi, berapa banyak peniti cantik yang kalian punya. Untuk apa kalian gunakan? Untuk menarik perhatian? Berapa banyak baju yang kalian punya. Berapa banyak barang yang kalian punya... Semakin banyak barang dan harta yang kalian miliki, maka semakin banyak pula tanggungjawab yang akan diminta”

Apa saja yang kumiliki? Apa saja yang kusimpan dalam lemari dan rumahku? Untuk apa mereka aku gunakan. Sungguh para sahabat memanfaatkan kekayaan mereka untuk berjihad di jalan Allah, tidak hanya harta, bahkan jiwa. Lalu kita?? Lihatlah Abu Bakar, bahkan beliau tidak menyisakan harta sedikitpun untuk istri ataupun anak-anaknya ketika beliau meninggal, “cukuplah Al-qur’an dan Sunnah yang kutinggalkan untuk mereka”. Maha Besar Allah yang membuat hati para sahabat begitu cinta Kepada-Nya dan Rasul-Nya. Semoga kita di anugerahi perasaan itu... Amin.
_____________________
Rumah tarbiyah, Yogyakarta
Rabu, 11 Juli 2012 [12:55]