Oleh : [Kiki] Rakhmawati Z
rakhmawati.zaki@gmail.com

Monday, March 11, 2013

Welcome “Semburat Cahaya Langit”


Takdir adalah ketetapan Allah dan manusia tidak memiliki kuasa dalam ranah ini. Betapa manusia memiliki keterbatasan yang sangat tidak terbatas ketika sudah dihadapkan pada takdir. Tetapi Allah Maha Rahman dan Maha Rahim, Allah memberikan kesempatan agar “kita bisa lari dari takdirNya yang satu menuju takdirNya yang lain, merubah takdir buruk yang telah ditetapkanNya kepada kita menjadi takdir baik” Bagaimana caranya?

Kaya itu takdir. Tetapi memanfaatkannya di jalan Allah atau memanfaatkannya untuk kemakshiyatan adalah pilihan. Pilihan ini berada dalam ranah manusia. Disinilah ujiannya. Takdir mana yang selanjutnya akan dipilih dengan takdir “kaya” yang sudah diterima? Which one do they prefer to choose? It is up to them... It depends on their heart calls to choose...

Jalan makshiyat bertebaran di sekeliling kita, setiap waktu, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik. Tetapi jalan cahaya jaaaaauh ! terbentang luas di depan kita. Takdirpun akan terus mengejar dan mengincar. Dan kita tidak akan pernah bisa menghindar darinya. Sehingga kita harus memiliki amunisi “HATI YANG KUAT” agar bisa menghadapinya. Tidak hanya bisa menghadapinya, tetapi juga memenangkannya. Lalu bagaimana caranya agar hati kita menjadi kuat? Yaitu dengan memberikannya vitamin-vitamin hati.

And.... Here it is ! “Semburat cahaya langit”. “Semburat Cahaya Langit” merupakan sebuah blog mini yang khusus dipersembahkan untuk teman-teman para pencari vitamin-vitamin hati. Didokumentasikan khusus untuk antunna semua yang ingin memperkuat hatinya.

Semoga dokumentasi tulisan ini akan menjadi pahala jariyyah yang akan mengalirkan kucuran pahala. Semoga kita selalu bisa menghadirkan Allah di setiap langkah... Aamiin


Jumu’ah Mubarak, 8 Maret 2013
Sambil menanti datangnya waktu maghrib 



Friday, January 25, 2013

(Special) for Muslimah Only

Rumah Tarbiyah. Rumah Cahaya. Orang-orang di luar sana menyebutnya Rumah Para Calon Bidadari Syurga. Penamaan ini dimaksudkan sebagai do’a agar mereka yang tinggal didalamnya selalu bersemangat dalam menuntut ilmu dan menempuh jalan menuju syurga. Tertanggal 25 Januari 2013, Inspirasi pagi di Jumuah Mubarak ditemani Indahnya tilawah Misyari ibn Rasyid [06:45-07:36]

Metamorfosa
It is dedicated to all of you Hai Muslimah

Aku memang bukan muslimah yang syamil, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha untuk menjadi syamil dalam mengaplikasikan hukum-hukum Allah

Aku memang bukan hafidzah, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha menghafal ayah demi ayah, surah demi surah dan juz demi juz dari Alquran

Aku memang bukan muslimah yang mewarisi berjuta ilmu para alim ulama, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha mengasah diri untuk menjadi generasi penerus yang rabbani, menjadi pencetak manusia berakhlaq mulia

Aku memang bukan muslimah yang istiqamah dalam Qiyamul lail, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha melawan beratnya bangun di tengah malam buta dikala binatang nokturnal berpesta

Aku memang bukan muslimah yang istiqamah dalam Dhuha, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha menjaga shalat dikala sepenggalah matahari telah tampak oleh mata

Aku memang bukan muslimah yang kaya raya, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha untuk menyisihkan harta yang Allah titipkan, berbagi dengan mereka yang kekurangan

Aku memang bukan muslimah yang cantik secara fisik, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha mencantikkan diriku di mata Yang Maha Cantik

Aku memang bukan muslimah yang baik, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha untuk menjadi bagian dari Al Abrar, golongan orang-orang yang baik

Aku memang bukan muslimah yang ahsan dalam beramal, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha menjadikan hidupku sebagai sajadah, tempatku bersujud untuk menyembah Zat yang Maha Esa

Aku memang bukan muslimah yang bersih dari mashiyat, tapi aku adalah muslimah yang akan selalu berusaha menghindari pintu-pintu yang akan mendekatkanku pada neraka

Jihaddun nafs dan istiqamah adalah seberat-beratnya ujian bagi manusia, dan dunia adalah hamparan sajadah untuk bersujud kepada Allah, semoga dikuatkan Hai Muslimah

Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya. Mari kita terus bermetamorfosa untuk menjadi Abdu yang syamil dan tunduk secara penuh kepada Allah. Don’t be your self. B’cause human being is surrounding by nafs (syaiton). Be our self is not always in a good way. But be the real slave ! Be  different ! Different with your special charity. Follow them who istiqamah in Dhuha. Follow them who istiqamah in Tahajjud. Follow them who istiqamah in Smile. Follow them who istiqamah in Shaum. Follow them who istiqamah in Shodaqoh. Follow them who istiqamah in memorizing Alquran. And you’ll be different ! Allah is the trully way to come...

Friday, January 4, 2013

Antara Dua Wanita


Sebuah kisah dua wanita yang sangat menginspirasi, semoga bisa membuka mata hati kita akan sebuah keputusan. Keputusan yang sudah menjadi ketetapan, takdir. Yang perlu kita pahami adalah, bahwa kita bisa lari dari dari takdir Allah yang satu menuju takdir Allah yang lain, dengan takdir Allah pula. Dan semoga kita diberi kekuatan untuk terus mengejar takdir baik yang telah Allah tetapkan.

***** 

Bahwa ada pilihan-pilihan dalam menyusun cita dan langkah di jalan cinta para pejuang, biarlah kali ini dua orang wanita yang mengajari kita. Wanita pertama bernama Habibah binti Sahl. Inilah Imam Al Bukhari meriwayatkannya. “Sesungguhnya”, kata Ibnu Abbas, ”Habibah binti Sahl istri Tsabit ibn Qais telah menghadap kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia berkata, “Ya Rasulullah, saya tidak mencela akhlaq dan agamanya, tetapi saya tidak menyukai kekufuran dalam Islam.” 

Rasulullah Shallaahu A’laihi wa Sallam bersabda, “Maukah engkau mengembalikan kebun-kebuannya?” 

Ia menjawab, “Ya..!”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Tsabit, “Ambil kembali kebun itu, dan Thalaq-lah isterimu satu kali!” 

Dalam redaksi yang lain, Habibah bercerita banyak tentang sebab keinginannya bercerai dari Tsabit. Habibah berkata kepada Rasullullah, “Tampaklah apa yang tidak aku ketahui pada malam pengantin kami. Aku pernah melihat beberapa orang laki-laki, namun suamiku adalah lelaki yang paling hitam kulitnya, pendek tubuhnya, dan paling jelek wajahnya. Tidak ada satu kebagusan pun yang aku temui pada dirinya. Aku tidak mengingkari kebagusan akhlak dan agamanya, Ya Rasullullah. Tetapi aku takut menjadi kufur jika tak bercerai darinya. Aku takut jika terus menerus bermaksiat padanya karena ketidaktaatan pada suami, dan aku tahu itu menyalahi perintah Allah Swt.”

Habibah begitu mengerti akan potensi dirinya. Ia tahu akan resiko yang kemungkinan besar terjadi sebagai konsekuensi dari bertemunya realita kondisi yang ia hadapi dengan watak, sifat, dan karakter dirinya. Maka ia bicara tentang sebuah hak yang memang semestinya ia peroleh.

Ini tidak tercela. Bagaimanapun ada harapan-harapan tersendiri bagi seorang wanita untukmendapatkan suami yang begini dan suami yang begitu. Siapapun tidak berhak mengatakan habibah berselera rendah karena ia menolak Tsabit ibn Qais semata karena alasan fisik. Dan sebenarnya alasannya lebih pada dirinya sendiri yang khawatir kufur pada Allah atas kondisi suaminya. Dalam ungkapan Habibah, “Aku tidak mengingkari kebagusan akhlak dan agamanya, Ya Rasullullah.Tetapi aku takut menjadi kufur jika tak bercerai darinya. “Ada hal lebih besar yang ia takutkan, yakni kufur pada nikmat Allah. Dan durhaka pada suaminya.

Habibah binti Sahl memilih untuk bertaqwa pada Allah dengan meminta cerai dari seorang suami yang sulit diterima oleh perasaannya. Dan itu pun bukan tanpa resiko. Bersuamikan Tsabit ibn Qais dalam bayangannya menuntut kesabaran yang tak tertanggungkan. Tetapi ia juga sadar, hidup tanpa suami membutuhkan kesabaran dalam bentuknya yang lain. Selalu ada ruang, dan ruang itu berisi pilihan-pilihan.

Tetapi, bicara tentang kemuliaan, tentu lebih dari sekedar bicara tentang hak. Inilah kisah tentang wanita kedua. Ada satu kasus menarik dari seorang shahabiyah Rasulullah yang dinikahkan oleh ayahnya tanpa persetujuan dari dirinya. Menarik. Karena ia mengungkap satu pelajaran besar tentang hak wanita untuk menentukan pilihan. Ia memperjuangkan hak saudari-saudarinya itu agar mendapat ketegasan pengakuan dari Allah dan RosulNya. Dan jauh lebih menarik, karena ia mengungkap kemuliaan sebuah kata ridha kepada orang tua,dan keagungan kata sahabat atas ujian . Dengarlah,dalam riwayat Imam An Nasa’i, ‘Aisyah bercerita dalam perasaan yang senada. Perasaan seorang wanita.

“Ada seorang gadis remaja dinikahkan dengan seorang laki-laki. Ia kemudian berkata padaku, “sesungguhnya ayah telah menikahkanku dengan putera saudaranya agar martabatnya dapat terangkat melalui diriku. Tetapi aku tidak menyukainya..!”

“Aisyah lalu berkata, “Duduklah.!” Hingga kemudian, datanglah Rasulullah Saw. Maka aku pun memberitahukannya kepada beliau. Rasulullah lalu mengutus seseorang untuk memanggil ayahnya agar hadir kerumah beliau.

Ketika sang ayah hadir, Rasulullah Saw menyerahkan kembali urusan hal pernikahannya kepada sang gadis . Tetapi gadis itu berkata. “Ya Rasulullah, sebenarnya aku telah ridha akan apa yang dilakukan ayah kepadaku. Hanya saja, aku berkeinginan untuk memberitahukan  kepada para wanita, bahwa mereka memiliki hak dalam masalah ini.”  

Ada hak dalam menolak pernikahan yang digagas orangtua. Tapi ada kemuliaan dalam mentaati orangtua dan berbakti pada mereka. Wanita agung ini memilih yang kedua. Bukannya tanpa resiko. Karena dalam pernikahan ini ianya harus membangun cinta, mengatur perasaannya dari titik tidak suka. Begitulah. Selalu ada ruang diantara rangsangan dan tanggapan. Dan ruang itu berisi pilihan-pilihan. Maka itulah gunanya misteri takdir. Agar kita memilih diantara bermacam tawaran.

*****

Jumu'ah mubarak, 4 Januari 2013
Rumah Tarbiyah

Wednesday, November 28, 2012

Only Wish for Palestine

::: My Only Wish :::

All your armies ! All your fighter !
All your tanks ! And all your soldier !
Against a boy ! Holding a stone !
In his eyes, I see the sun...
In his smile, I see the moon...
And I wonder, I only wonder...
Who is weak !! And who is strong ?!
Who is right !! And who is wrong ?!
And I wish, I only wish...
That freedom, fastly comes...
____________________________

Allahu Akbar !
______________________

Thursday, November 22, 2012

Dua Anak Manusia

[Rajab]
A : When she’s daughter, she opens a door of jannah for her parents. When she’s a wife she completes half of the deen of her husband. When she’s a mother, jannah lies under her feet. If everyone knew the true status of moeslimah, even the men would want to be women (Syaikh Akram Nadawi)
B : ............................ *hiks
A : Segala luka dan kecewa tampaknya kan malu dan meniada : ketika kita insyafi bahwa Allah yang Maha Mengatur tak pernah keliru, tak pernah aniaya (Salim A Fillah)
B : ............................ *hiks

[Sya’ban]
A : Salam rindu dari hatiku... Kangeeennnnn
B : Angin, sampaikan rinduku pada cinta *mmmm

[Ramadhan ]
A : Ayooookkkkk tinggal 10 hari lagi. Semangat semangat semangat kakaakk... hayukk kejar khusul khotimah!! Hoi! Hoi! Hoi! \(^0^)/
B : Yookk mari yookk ! ^o^ ****

[Syawal]
A : We’ve always had wonderful time. I just need your sincerity to forgive all things I’ve done wrong. May Ramadhan brings in lots of blessings for us. Barakallah...
B : Suci. Bersih. Putih. Kembali...

[Dzulqo’dah]
B : Aku mau stay di Amazon buat beberapa bulan ke depan, bye bye
A : Hee? Elo mo ngapain di hutan? Kapan ke sana?
B : Mau ngejar takdir Allah
A : Sampai kapan?
B : KapanKapan *nyanyi, gimana kabar Azam?
A : Baik,
B : Masih kontak?
A : Masih, dia mau nikah tuh
B : Haa! Sama siapa, kapan?
A : Deket ini...
B : Trus kamu?
A : Mau gimana?
B : Kamu prefer yang mana ?! 
A : Azam itu idaman, tapi aku ngga tau dia mau sama aku apa ngga. Kalo satunya lagi beneran... Gatau aku ceritanya gimana, dia lagi berjuang dapet restu

A : Hoooooyyyyyyyyyyyyy
B : Hey !

A : Heeehhhhh kamu ngapain nongol-nongol di mimpiku, haaah? Kalo berani dateng langsung ke sini
B : Uangnya mau buat nunggu kamu nikah... Kalo dateng sekarang trus pas kamu nikah ngga bisa dateng, boong aja... Mau aku ngga dateng !?

[Dzulhijah]
A : Ngga ada yang perlu di rayakan dari berkurangnya umur. Jadi, semoga waktu yang udah lewat Allah ridho, waktu yang tersisa barakah Huhuhu, kata orang mah makin tua makin berjaya. Mudahan makbul ya
B : Thanks Sob, berkah dan sukses juga di sisa umurmu...
A : Sini ke borneo ah !
[Tiiiiiiiiiiiiiiit..............................]
B : \(^0^)/
A : Cieehh, cie cie
B : Jaga Allah, menyukai dan disukai itu anugerah
A : Jangan nikah sama orang yang di suka, tapi suka sama orang yang di nikahi
B : Lebih barokah... Never thought you’ll say those words, calonnya siapa sih?
A : Calonnya orang shaleh
B : Aamiin. You’ll get as you thaught bout what would God gives to you. Cayo ! yo yo bravo !
A : Sekarang doyan ngerap ya ? -_________-


Bumi Allah_22112012

Tuesday, November 20, 2012

Keep Your Promise !


2 months. I have been lived in Paris Van Java. Crowded. Hectic. Dizy. Just like Batavia City. Money. Fashion. Joy. Pleasure. People space out their times freely. Whenever and everywhere. 

Shaking my mind. Think to move on. Keep hand my promise. 

Fortunately, there were two of my friends accompanied me since I stayed. They kept me ! So I didn’t face my hardest work lonely. They were really really gift from God. But times goes on. I couldn’t keep this togetherness stayed for along time. We have our own way on the further times. And that time definitely will come. Resting this togetherness. Face out our life lonely is really something. Yet, there were many friends and family stayed and supported us all the time. They keep us to cheer up ! They are another candle light in the night.

We have to see everything positively. Dad’s advice.

That was right. Thinking positively will make us keep stand and cheer up this life. Kindness is still spread out surrounding us. Allah was right. His command is guidline that should be hold. We should know. That anything happened is something to learn.

Nowdays. Capitalism is everywhere. Maybe sometimes it could change our straight mind, who know? We lived in the “Wilderness World”. Keep on our hand-grip to God is something should do to keep us stand in the blest way. That so for someone who will be ours (mate). We must consider how strong are they? How strong their willing to make a change in their later little family. Supporting Islam to blossom out its kindness. And letting it for having powerful in this world wide for the second times.  

Saving God rules.

They exactly know how it feels. Now and afterwards will getting blur for them who have met their maturity. Unpredictable moment has come to them. And this should ! makes them to hand-grip His line stronger and stronger. Believe in His destiny. Even sometimes it hards. 

Pen has risen and ink has written.

Keep on your promise when you were be unborn child. That you will keep your word. Allah is my God. And I will back. ‘Coz I belong to Him... 


[211112] - [09:15-10:02]
Paris Van Java

Friday, October 12, 2012

Pelukan Sang Bidadari

Kategori: Cerpen Islami
Karya: Qiela Monaza AlAdwa

PELUKAN SANG BIDADARI

Wajah ‘Aisya berbinar sekaligus terharu ketika Teh Nini memeluknya erat dengan senyum ala bidadari syurga. Cantik. Harum. Sejuk dipandang.  “Subhanallah...” batin ‘Aisya. Ahirnya ‘Aisya bertemu juga dengan sosok yang sudah sejak lama dia kagumi. Teh Nini. Istri seorang Da’i muda yang sempat naik daun. “Alhamdulillah...” ucapnya sekeluarnya dia dari sebuah Masjid.

Dalam hati, ‘Aisya berkata pada dirinya sendiri, bahwa setiap wanita pada dasarnya bisa menjadi bidadari di dunia sekaligus di syurga. Pesona tersebut akan keluar dengan sendirinya. Anugerah yang memang Allah karuniakan kepada wanita-wanita shalihah perindu syurga. Satu pelajaran berharga diperoleh ‘Aisya hari ini. Berkat pertemuannya dengan wanita yang dia rindukan sejak lama. Sekalipun dia sering memandangnya dalam majlis taklim yang pernah di ikutinya. Tapi kedekatannya hari ini memberinya pelajaran berharga yang tidak mungkin secara kebetulan di dapatkannya.

Sudah hampir sebulan ini ‘Aisya tinggal di Kota Kembang. Paris Van Java. Pusat fashion Indonesia masyarakat mengenalnya.

Sejak menjejakkan kakinya di Kota Kembang, ‘Aisya sudah memantapkan tekadnya untuk belajar dan meraup pengalaman. Pasca kelulusannya dari sebuah universitas negeri di Kota Pelajar, ‘Aisya mulai menyadari perjuangan kehidupan yang sebenarnya. Kekhawatirannya akan semakin berkurangnya umur, bertemunya dia dengan kedewasaan, dan semakin banyaknya tanggungjawab baru yang lebih berat yang harus dia emban yang semakin dirasakannya, membuatnya semakin semangat untuk belajar dan terus belajar. Facing the real world. 

Pagi itu ‘Aisya bersiap untuk pergi. Hampir sebulan dia tinggal, tapi dia sama sekali belum pernah mengunjungi Ponpes tempat bidadari cantik itu tinggal. Padahal keinginan itu sudah terucap lama sejak dia memutuskan untuk pindah. Tanpa tau arah, dia memberanikan diri untuk berkunjung. Bersilaturrahim. Bersama dua rekannya yang lain yang kebetulan akan pergi jalan-jalan, dia berpamitan kepada pemilik asrama tempat dia tinggal.

“Ayo ikut”, ucap Bapak paruh baya yang tidak lain adalah Pak Tampubolon, Executive Manager tempat ‘Aisya menimba ilmu selama beberapa waktu ke depan ketika dia dan dua rekannya berjalan menuju tempat dimana delman mangkal. Terlihat dua anak laki-laki lucu dan seorang wanita cantik di dalam mobil elegan berwarna silver yang dibawanya.

Sejak awal, ‘Aisya mendapati bahwa pimpinannya adalah seorang yang baik sekalipun originaly dia adalah seorang batak. Tanpa malu-malu ‘Aisya dan kedua rekannya pun masuk ke dalam Nisan Livina silver dihadapan mereka, dan di antarlah hingga ke pusat kota tempat angkot menuju lokasi yang di tuju mangkal. Mereka cukup dekat dengan sang Bapak. Selain baik, dia juga tak rikuh dengan staff yang secara struktural berada di bawahnya. Seringali dia manawari untuk jalan-jalan keliling kota atau menghadiri event-event ala anak muda, tapi ‘Aisya menolak. Dan rekan-rekannya pun menghormatinya. Ketikapun waktu luang menyapa, ‘Aisya lebih suka menghabiskan waktu luangnya untuk menulis, beraktifitas ala anak rumahan, dan sesekali berjalan-jalan keluar kota mencari udara segar atau sekedar mengunjungi sahabat dan saudaranya. ‘Aisya adalah sosok wanita ‘muda’ yang biasa saja, tapi kepeduliannya akan generasi mendatang begitu menggebu. Dia ingin menjadi wanita penggubah ‘dunia’ melalui keluarga kecilnya kelak. Sebuah mimpi besar seorang wanita biasa. 

“ ’Aisya nanti pakai angkot elf yang ke arah kiri, bayarnya duaribu saja”, ucap wanita cantik yang duduk disampingnya. “Lasta dan Ratu ke arah kanan pake angkot warna telur asin, bayarnya tigaribu”, tambah wanita itu sembari menyunggingkan senyum. “Hati-hati ya di jalan”, pesan Pak Tampubolon. Mereka bertiga pun berpisah di persimpangan jalan layang yang terlihat padat tempat berbagai jenis jalur angkot berlalu lalang.

Mata ‘Aisya berbinar dan hatinya berbunga ketika dia masuk ke dalam angkot yang akan mengantarnya menuju Ponpes tempat bidadari yang di idamkannya tinggal. “DT ya Pak”, ucap ‘Aisya pada Pak Sopir, sopir angkot itu terlihat masih muda. Tetapi urat yang membekas di  tangan dan lehernya menampakkan bahwa dia sudah sejak lama menghabiskan waktunya bekerja keras di bawah terik panas. “DT disini Neng”, ucap Pak Sopir pada ‘Aisya. ‘Aisyapun menyerahkan selembar uang duaribuan yang sudah disiapkannya sejak menaiki angkot. “Trimakasih Pak”, ucap ‘Aisya. “Sama-sama Neng”, jawab Pak Sopir ramah.

Neng. Sejak awal sampai di Kota tersebut, ‘Aisya memang merasa asing dengan sapaan itu. Terlebih lagi bahasa origin yang tidak dia pahami sama sekali.

Sembari menyusuri jalan lokal yang dipenuhi oleh pedagang kaki lima, ‘Aisya membenahi kerudung merah maroonnya yang tersangkut tas hijau army mungil sederhana di lengan kanannya. Gamis putih gading bercorak kotak merah dan weight dash berukuran kecil yang dikenakannya adalah hasil karyanya sendiri. ‘Aisya menyukai dunia design. Memiliki butik muslim adalah impian besar ‘Aisya yang lain. Dia ingin mememperkenalkan karyanya pada wanita-wanita modern bahwa dengan pakaian tertutup pun mereka akan tetap terlihat cantik dan mengagumkan, karena memakai atribut yang di syari’atkan adalah kewajiban yang tidak bisa ditentang.

15 menit sudah ‘Aisya menyusuri jalan itu, dan sampailah dia di tempat yang di tuju. Sayup-sayup dia mendengar ceramah dari dalam masjid bergaya minimalis yang akan dimasukinya. ‘Aisya pun melihat jam di tangan kirinya, pukul 10.30. “Bismillahirrahmaanirrahiim...” ucap ‘Aisya seraya memasuki masjid yang terlihat sangat bersih dan rapi hampir tanpa cela. Di pintu masuk bertuliskan “batas suci” ‘Aisya mendapati sandal dan sepatu terjejer rapi. Diapun mampir sejenak di lorong pintu akhwat karena melihat deretan lembaran pengumuman di lemari terbuka yang memang disediakan untuk para pengunjung. Tanpa ragu ‘Aisya mengambil lembaran-lembaran itu. Lalu dilanjutkan dengan menyusuri lorong pendek yang berujung tangga menuju ke lantai dua. Di bawah tangga terlihat toilet muslimah yang bersih, rapi dan dipenuhi kaca separuh badan hampir di sepanjang tembok tempat berwudlu. Toiletpun terlihat syar’i dengan letak kakus yang menyerong ke kanan 45 derajat dari arah kiblat (barat laut.red) sehingga tidak menghadap atau membelakangi kiblat. Setelah berwudlu, ‘Aisya menaiki tangga menuju ke lantai dua. Didapatinya ibu-ibu dan wanita muda yang sedang menyimak ceramah dari seorang ustadz muda yang belum dikenalnya.

Dzuhur menjelang. Jam menunjuk pukul 11.45 dan penceramah mengahiri kajiannya dengan memberikan pengumuman agar jama’ah bersiap untuk menyambut dzuhur, dan yang membuat ‘Aisya terkejut adalah pengumuman berikutnya, bahwa pukul 13.00 Teh Nini akan datang. Kebetulan yang tidak mungkin hanya kebetulan. Kejutan Allah sering kali membuat ‘Aisya berucap syukur. Sejak mula, ‘Aisya hanya berniat untuk mencari informasi terkait kegiatan di sana untuk mengisi kebutuhan ruhiyahnya, tetapi Allah sekaligus mempertemukannya dengan bidadari yang dia idamkan.

Panggilan shalat pun datang. Sebagian besar jama’ah melakukan shalat qabliyah sebelum iqamah dikumandangkan. Pasca shalat dzuhur, sembari menunggu kedatangan Teh Nini, jama’ah bertilawah menggemakan lorong masjid mungil nan bersih yang dipenuhi pelapis kayu di temboknya. Membuatnya terlihat klasik dan elegan. Hingga terdengar pengumuman bahwa bidadari yang diidamkan ‘Aisya telah tiba. Gamis biru dongker berpayet bunga sederhana di bagian bawah yang dikenakannya membuatnya terlihat segar dan percaya diri. Cantik. Sejuk. Agak lama wanita itu berada dibalik tiang masjid bersama seorang balita mungil cantik yang membuat wajahnya tak terlihat. Lalu wanita itupun melangkah ke mimbar kayu bercat coklat dengan tempat duduk rotan dengan perpaduan gaya klasik tetapi terlihat modern di depan jama’ah wanita. “ma’aaaf... cucuuu”, ucap wanita cantik itu sambil membetulkan posisi duduknya. “Cantik”, gumam ‘Aisya. “Menyejukkan sekali dipandang, benar-benar bidadari dunia”.

“Asiyah, The Truly Beauty”, ucap Teh Nini mengeja. “Susah ya bacanya, maklum saja karena saya belum bisa bahasa inggris”, tambahnya merendah. Tema inilah yang akan di angkat. ‘Aisya memperhatikan dengan seksama, dari gaya bicaranya, caranya menyampaikan, dan gerak-geriknya, memang menandakan bahwa wanita dihadapannya adalah sosok wanita cerdas lagi lemah lembut. ‘Aisya pun semakin kagum. Pantaslah Teh Nini mendapatkan sosok Da’i muda yang memiliki keberagamaan kuat dan berwawasan luas. Tak beda jauh darinya. Dan tentu saja kebersamaan tersebut membuat mereka semakin kuat mencintai Allah dan saling menguatkan dalam kebaikan.

“Aisyah adalah sosok yang cerdas lagi tawaddu’ ”, wanita berparas cantik itu menyampaikan dengan intonasi yang ditekan. Menunjukkan bahwa sang ummul mukminin adalah sosok yang dikaguminya. “Nabi seringkali mendapatkan wahyu ketika tidur bersamanya”, ucapnya. “Tentulah ini bukan sebuah kebetulan, tetapi karena Allah tau bahwa Aisyah adalah wanita cerdas yang memiliki daya ingat kuat dan akan sangat membantu Nabi dalam menyampaikan risalah, bahkan ketika Nabi wafat, banyak para sahabat yang menjadikan Aisyah sebagai rujukan”, tambahnya. “Karena beliaulah yang paling sering bersama Nabi setelah wafatnya Khadijah. Yang memahami betul bagaimana akhlaq sang Nabi. Yang melihat gerak-gerik Nabi dari bangun tidur hingga tidur kembali. Bagaimana posisi tidurnya, bagaimana cara mandi janabahnya, bagaimana cara berwudlunya, bagaimana cara makannya, bagaimana cara shalatnya, dan semua gerak-gerik selama masa hidupnya”.

“Banyak hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah dibandingkan oleh istri-istri Nabi yang lain, dan itu menunjukkan bahwa dia adalah sosok yang cerdas dan memiliki daya ingat yang tajam. Beliaupun suka memuji istri-istri Nabi yang lain, sebuah kisah menunjukkan sifat tawaddu’nya yang tinggi, jelas Teh Nini, “yaitu ketika beliau hendak wafat. Ketika itu beliau sakit, dan dengan usianya yang sudah masuk masa senja, menyadarkanya bahwa waktunya sudah dekat. Satu-persatu sahabat pun menengoknya dan mendoakannya. Hingga sampailah salah seorang sahabat. Tetapi Aisyah menolaknya. Karena dia tau bahwa sahabat yang datang tersebut akan memujinya. Dan dia tidak menginginkan itu. Bahkan dia berucap bahwa dia ingin menjadi orang yang dilupakan”.

“Aisyah adalah istri Nabi yang mendapat julukan humaira karena pipinya yang merah merona walaupun tidak diberi blush on. Selain itu beliau juga mendapat julukan Ashshiddiqqoh yaitu wanita yang dipercaya seperti ayahandanya Abu Bakar Ashshiddiq, sahabat terdekat Rasul. Sejak masa kecilnya, dia sudah hidup dalam lingkungan tauhid dan sudah menampakkan kecerdasannya. Nabi pernah mendatanginya ketika beliau sedang bermain layaknya anak kecil sebayanya karena memang umurnya ketika menikah dengan Nabi masih sangat muda, 6 tahun. Nabi melihatnya membawa boneka kuda bersayap. Lalu Nabi bertanya, “Aisyah, adakah kuda yang bersayap?”. “Bukankah kuda Nabi Sulaiman memiliki sayap”, jawabnya, dan Nabi pun tersenyum. Dengan umur semuda itu, beliau sudah memilki pengetahuan dan kecerdasan yang luar biasa”.

Kisah yang paling berkesan bagi ‘Aisya adalah ketika Aisyah mendapatkan ujian fitnah. Walaupun ‘Aisya memiliki koleksi buku shirah shahabiyah, dia selalu merasa senang walaupun kisah tersebut sering kali di ulang dalam ceramah yang di ikutinya baik secara audio maupun visual. Bagi ‘Aisya, kisah tentang para sahabat dan sahabiyah adalah kisah yang selalu terdengar indah. Teh Nini pun menyampaikannya dalam ceramahnya. “Ketika itu Aisyah ikut pergi bersama rombongan, ketika dalam perjalanan, Aisyah pergi ke suatu tempat untuk berhadas. Lalu ketika kembali dia mendapati kalungnya tidak ada. Diapun kembali ke tempat semula dan mendapati kalungnya yang tertinggal, tetapi ketika dia kembali ternyata rombongan sudah tidak ada. Tubuhnya yang kecil membuat penuntun onta yang membawa Aisyah tidak menyadari bahwa Aisyah belum masuk ke dalam tandu. Hingga ahirnya diapun tertinggal. Aisyah pun menangis hingga ketiduran. Dan ternyata ada salah seorang sahabat yang tertinggal di belakang dan dia menemukan ummul mukminin tertidur. Diapun mengajak Aisyah untuk menaiki ontanya dan menuntunnya, mereka hanya berjalan berdua, dan Allah menjadi saksi sepanjang perjalanan mereka. sesampainya di kota, seorang Quraisy memfitnahnya. Hingga tersebarlah berita itu di kalangan sahabat hingga Nabi. Pada mulanya Nabi tidak terhasut oleh berita itu, tetapi karena berita tersebut sudah menyebar begitu luasnya ahirnya beliau terpengaruh oleh kondisi. Hingga beliau mendiamkan Aisyah selama 40 hari lamanya. Dari sini kita belajar, bahwa Nabi juga manusia biasa yang juga bisa terhasut layaknya manusia kebanyakan. Hikmah lainnya adalah, bahwa Aisyah, Rasul dan para sahabat justru lebih sering di uji keimanan dan kesabarannya, bahwa ujian yang semakin berat akan ditimpa oleh mereka yang semakin mendekatkan diri pada Allah, sehingga bisa menjadi ibrah bagi umat setelahnya. Hingga ahirnya Allah membela sang ummul mukiminin melalui firman-Nya”.

Kisah itu selalu terngiang di telinga ‘Aisya. Indah sekali. Betapa mulianya sang ummul mukminin hingga Allah membelanya dan mendokumentasikan dirinya dalam Al-qur’an, Kitab Suci yang hingga kini menjadi acuan dan pedoman hidup jutaan muslim di dunia.

“Ketika Aisyah berumur 4 tahun, Allah mengabarkan Nabi dengan memberikan gambar wajah Aisyah dalam mimpinya dua kali. Dia akan menjadi istrimu kelak. Jibril mengabarkan”. “Subhanallah, betapa mulianya wanita pemilik pipi merah itu. Sang ummul mukminin. Betapa mulianya beliau. Malaikat Jibril yang mengabarkan, pemimpin dari pemimpin para malaikat. Utusan pemilik alam semesta”, batin ‘Aisya.

Keinginan ‘Aisya untuk bertemu dan melihat betapa sempurnanya istri Nabi begitu menggebu, walaupun ‘Aisya hanya manusia biasa yang masih sangat jauh dari predikat shalihah, apalagi sempurna. 

‘Aisya pun kembali ke asramanya dengan bahagia. Sepanjang perjalanan tak hentinya ‘Aisya berucap syukur karena dia mendapatkan pelajaran yang lebih dari yang dia cari. Belum lagi dipeluk oleh sang bidadari dunia yang dia idamkan sejak lama. Tentu saja, pengalaman ini akan semakin menguatkan dirinya untuk tetap kokoh menembus zaman. Mendidik Aisyah masa depan.

[09102012]-[06:13-08:59]
Paris Van Java